SUARA INDONESIA JEMBER

Mohamad Solikin Raih Satyalancana, Penghargaan Negara atas Jejak Panjang Pengabdian

Fathur Rozi - 28 November 2025 | 12:11
Pendidikan Mohamad Solikin Raih Satyalancana, Penghargaan Negara atas Jejak Panjang Pengabdian
Mohamad Solikin saat menerima penghargaan Satyalancana Karya Satya pada rangkaian upacara peringatan Hari Guru Nasional (HGN) 2025 di Alun-Alun Jember, Jumat (28/11/2025). (Foto: Istimewa)

SUARA INDONESIA, JEMBER - Di tengah deru ombak selatan Jember yang membentuk karakter masyarakat pesisir, nama Mohamad Solikin telah lama melekat sebagai sosok pendidik, penggerak desa, dan penjaga budaya lokal.

Pekan ini, pengabdian panjang itu mendapat pengakuan negara. Ia resmi menerima Satyalancana Karya Satya 10 Tahun, tanda kehormatan bagi aparatur sipil negara yang konsisten mengabdi tanpa cela.

Upacara penyerahan penghargaan berlangsung bersamaan dengan upacara peringatan Hari Guru Nasional (HGN) 2025 di Alun-Alun Jember, Jumat (28/11/2025). Ia menjadi tamu undangan VIP.

Bagi Solikin, momentum itu bukan penutup kisah, melainkan awal perjalan yang masih harus ditempuh. “Penghargaan ini bukan akhir. Ini pengingat bahwa saya harus tetap mengabdi,” ujarnya.

Solikin memulai tugasnya sebagai pendidik di SMPN 1 Puger, sebuah sekolah yang berdiri di tengah dinamika masyarakat nelayan.

Di lembaga ini, ia mendampingi siswa-siswa sepenuh hati. Tidak hanya mengajar, Solikin juga membangun komunikasi rutin dengan para orang tua agar anak-anak mereka tetap semangat bersekolah. “Sekolah ini mengajarkan saya tentang keteguhan,” katanya, suatu ketika.

Rekam jejaknya kemudian berlanjut saat ia dipercaya menjadi kepala sekolah di sebuah SDN di Kecamatan Tempurejo. Di tempat itu, ia memperkuat budaya disiplin, literasi, dan keterlibatan masyarakat.

Beragam program itu ia jalankan, karena Solikin meyakini bahwa kualitas sekolah tidak hanya bertumpu pada guru, tetapi juga partisipasi orang tua dan lingkungan desa.

Dalam penugasan berikutnya di SDN Glundengan 02, ia mengembangkan kegiatan berbasis keterlibatan komunitas dan wali murid. Sekolah pun dirancang bukan sekadar ruang belajar, tetapi pusat kegiatan bersama.

Tonggak penting kariernya hadir saat Solikin dimandatkan memimpin SMPN 3 Puger, sekolah kawasan pesisir yang berada di wilayah dengan tingkat kerawanan putus sekolah cukup tinggi.

Ia mengusung gagasan “sekolah sebagai rumah aman”, sebuah pendekatan yang menempatkan kenyamanan emosional siswa sebagai syarat utama keberhasilan pendidikan.

Di bawah kepemimpinannya, program pembiasaan karakter, kegiatan sosial, dan komunikasi intensif dengan wali murid, menjadi tulang punggung pembenahan sekolah. Langkah itu mengurangi potensi anak meninggalkan bangku pendidikan.

Di bawah tangan dinginnya, lembaga pendidikan yang berada di bibir pantai Jalur Lintas Selatan (JLS) Desa Mojomulyo, Kecamatan Puger ini, tumbuh menjadi sekolah yang semakin maju. Tak hanya dari sisi akademik, tapi juga kegiatan olahraga dan seni.

Dari segi infrastruktur juga tak kalah. Sejak Solikin menjadi nakhoda dua tahun terakhir, pembangunan fisik sarana dan prasarana pendidikan juga kian berkembang. Baik rehabilitasi bangunan lama maupun penambahan gedung baru.

Imbas positifnya, lembaga pendidikan yang awalnya hanya satu rombongan belajar tiap kelas ini, jumlahnya terus bertambah. Sekarang ada dua rombel pada tiap angkatan.

Di luar dunia pendidikan formal, Solikin juga aktif sebagai Ketua Kwarran Wuluhan Gerakan Pramuka. Ia menghidupkan kembali agenda pelatihan, kegiatan lintas pangkalan, hingga perkemahan rutin yang sempat vakum.

Keterlibatannya meluas ke ranah pemberdayaan desa. Sebagai Direktur BUMDes Gunung Mulia di Desa Grenden, ia mengelola sejumlah unit usaha yang berangkat dari potensi lokal.

Baginya, pendidikan dan ekonomi desa berjalan seiring. Anak-anak harus tumbuh di lingkungan masyarakat yang kuat secara ekonomi dan sosial.

Selain pendidik dan penggerak desa, Solikin dikenal sebagai pegiat seni. Ia termasuk salah satu penggagas Tari Sadeng, tarian yang mengangkat sejarah Pelabuhan Sadeng dan budaya maritim Puger. Tarian ini kini tampil di festival desa, kecamatan, hingga tingkat kabupaten.

“Budaya adalah jembatan nilai. Anak-anak harus mengenal akarnya. Kesenian itu cara halus mengajarkan karakter,” tuturnya.

Dengan jajaran pengabdian yang melintasi pendidikan, desa, hingga kesenian, Solikin memaknai Satyalancana Karya Satya sebagai penyemangat untuk melanjutkan perannya. “Saya hanya ingin tetap bermanfaat. Khoirunnas ‘anfauhum linnas. Itu saja,” pungkasnya. (*)

» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA

Pewarta : Fathur Rozi
Editor : Mahrus Sholih

Share:

Komentar & Reaksi

Berita Terbaru Lainnya