SUARA INDONESIA JEMBER

Batikmatika: Kreativitas Dosen UIJ Kemas Matematika dalam Kain Batik

Fathur Rozi - 30 May 2025 | 23:05
Pendidikan Batikmatika: Kreativitas Dosen UIJ Kemas Matematika dalam Kain Batik
Fury Setyo Siskawati, menunjukkan Batikmatika yang bercorak matematika dan kearifan lokal, Jumat (30/5/2025). (Foto: Fathur Rozi/Suara Indonesia)

SUARA INDONESIA, JEMBER – Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Islam Jember (UIJ) menciptakan terobosan unik dalam dunia pendidikan melalui inovasi kain batik edukatif yang dinamai Batikmatika. Melalui karya ini, dasar-dasar matematika dipadukan dengan motif batik berbasis kearifan lokal khas Jember dan daerah lainnya di Indonesia.

Fury Setyo Siskawati, dosen Prodi Pendidikan Matematika sekaligus pencetus Batikmatika, menjelaskan bahwa karya ini lahir dari keprihatinan atas rendahnya pemahaman matematika dasar di kalangan remaja serta minimnya pelestarian budaya lokal.

“Banyak konten di media sosial yang menunjukkan pelajar SMA kesulitan menjawab soal perkalian. Padahal itu matematika tingkat dasar. Di sisi lain, generasi muda juga mulai lupa pada kearifan lokal daerahnya. Maka, kami coba menyatukan keduanya lewat media batik,” ujarnya saat ditemui di Kampus 1 UIJ, Kecamatan Kaliwates, Jember, Jawa Timur, Jumat (30/5/2025).

Melalui Batikmatika, Fury dan timnya merancang motif yang menggabungkan konsep matematika dasar dengan simbol-simbol budaya lokal. Misalnya, motif “Kopi Aljabar”, “Tembakau Geometri”, hingga “Edamame Angka”, yang semuanya merepresentasikan kekhasan Kabupaten Jember.

“Karena berbasis di Jember, kami ambil elemen lokal seperti kopi, tembakau, dan edamame, lalu memadukannya dengan elemen matematika. Namun, tak hanya dari Jember, total ada 20 tema yang mengangkat kearifan lokal dari berbagai daerah di Indonesia,” terang Fury.

Beberapa motif lain yang telah diproduksi antara lain “Singkong Statistik”, “Cengkeh Bilangan”, “Merak Geometri”, “Kangkung Bilangan”, dan “Cengkeh Geometri”.

Menariknya, pemilihan batik sebagai media pembelajaran juga didasari pada fakta bahwa kegiatan membatik sudah dikenalkan sejak dini, mulai dari taman kanak-kanak.

“Jadi, selain sebagai sarana edukasi matematika dan pelestarian budaya lokal, Batikmatika juga bertujuan menanamkan kecintaan pada seni membatik sejak usia dini,” tambahnya.

Dengan pendekatan kreatif ini, UIJ berharap dapat menciptakan metode pembelajaran yang menyenangkan, bermakna, dan sarat nilai budaya. (*)

» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA

Pewarta : Fathur Rozi
Editor : Mahrus Sholih

Share:

Komentar & Reaksi

Berita Terbaru Lainnya