SUARA INDONESIA, JEMBER - Rumah Sakit Daerah (RSD) Balung tak ingin ketinggalan langkah dalam menghadapi era baru pelayanan kesehatan. Sebanyak 11 karyawan ditugaskan untuk mengikuti kelas daring Manajemen Risiko Terintegrasi dan Pengendalian Risiko.
Agenda itu digelar Persatuan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi) Wilayah Bali bekerja sama dengan RS Mata Bali Mandara, pada 29-30 Agustus 2025.
Langkah ini tertuang dalam Surat Tugas Direktur RSD Balung Nomor 800.1.11/1910/35.09.611/2025, yang diteken sehari sebelum acara dimulai.
Mereka yang ditugaskan berasal dari berbagai lini penting rumah sakit, mulai dari Kepala K3RS, Kepala Instalasi Gawat Darurat, Kepala Instalasi Rawat Inap, Kepala Laboratorium, hingga Kepala Instalasi Radiologi. Bahkan, pejabat pengadaan alat kesehatan juga ikut ambil bagian.
Kelas daring tersebut menghadirkan deretan pakar kesehatan rumah sakit tingkat nasional. Antara lain, Costy Pandjaitan dari Kompartemen Mutu dan Tata Kelola Klinis Persi Pusat.
Selanjutnya, ada dr. Luwiharsih yang juga Surveior serta Pembimbing Akreditasi KARS, serta Dr. Beni Satria, Sekretaris Kompartemen Hukum dan Advokasi Persi Pusat.
Materi yang diberikan tidak hanya soal teori manajemen risiko, melainkan langsung pada aspek aplikatif di lapangan.
Peserta juga diajak memahami pemetaan risiko rumah sakit pasca regulasi klasifikasi baru, mengkaji risiko infeksi secara proaktif, menyusun Integrated Risk Register, hingga berlatih menggunakan metode RCA dan FMEA dalam evaluasi risiko.
Lebih jauh, penggunaan kecerdasan buatan (AI) juga disorot, terutama dalam identifikasi risiko dan pencegahan fraud pada klaim pelayanan kesehatan.
Mewakili Direktur RSD Balung, Kepala Humas Rangga Andri Ekananta menegaskan, partisipasi rumah sakit dalam pelatihan ini menjadi bentuk keseriusan meningkatkan mutu layanan.
“Dengan mengikuti kelas ini, kami ingin memperkuat kemampuan manajemen risiko di setiap unit layanan RSD Balung. Harapannya, pengelolaan risiko bisa semakin terintegrasi, sehingga keselamatan pasien, mutu layanan, dan kepercayaan masyarakat kepada rumah sakit terus meningkat,” ujarnya.
Rangga menambahkan, pelatihan ini juga menjadi momentum penting untuk menyiapkan RSD Balung menghadapi standar akreditasi rumah sakit terbaru yang berlaku mulai 2024. “Transformasi layanan kesehatan menuntut kesiapan penuh, dan inilah bagian dari ikhtiar kami,” katanya.
Tak hanya sekadar pelatihan, kelas daring ini juga memberi kesempatan bagi peserta untuk terjun langsung dalam simulasi penyusunan Health Technology Assessment (HTA), penggunaan aplikasi berbasis teknologi, hingga mitigasi risiko keuangan rumah sakit.
“Dengan bekal tersebut, RSD Balung optimistis mampu beradaptasi dengan perubahan regulasi dan semakin sigap menghadapi tantangan pelayanan kesehatan ke depan,” pungkasnya. (*)
» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA
| Pewarta | : Fathur Rozi |
| Editor | : Mahrus Sholih |
Komentar & Reaksi