SUARA INDONESIA JEMBER

Edukasi Fraktur di RSD Balung, Keluarga Pasien Diajari Teknik Pertolongan Pertama Patah Tulang

Fathur Rozi - 30 August 2025 | 10:08
Kesehatan Edukasi Fraktur di RSD Balung, Keluarga Pasien Diajari Teknik Pertolongan Pertama Patah Tulang
Tim Humas PKRS RSD Balung bersama mahasiswa keperawatan Unej, saat menyampaikan edukasi fraktur di Ruang Mawar, Jumat (29/8/2025). (Foto: Istimewa)

SUARA INDONESIA, JEMBER - Penanganan patah tulang (fraktur) sering kali keliru dilakukan di masyarakat. Banyak korban justru makin parah karena pertolongan pertama yang salah. Mulai dari dipijat hingga dipaksa diluruskan.

Berangkat dari masalah itu, mahasiswa Keperawatan Universitas Jember (Unej) menggelar penyuluhan kesehatan bertema “Manajemen Penatalaksanaan Fraktur” di Ruang Mawar (Bedah) Rumah Sakit Daerah (RSD) Balung, Jumat (29/8/2025).

Kegiatan ini merupakan bagian dari praktik profesi keperawatan dasar yang fokus pada pendidikan kesehatan. Penyuluhan dihadiri pasien, keluarga pasien, serta Tim Humas Promosi Kesehatan Rumah Sakit (PKRS) RSD Balung, yakni Diah Mahmudah, Tri Ratna, dan Jihan Adinda.

Materi penyuluhan mencakup pemahaman dasar mengenai fraktur, cara mengenali tanda-tandanya, hingga teknik imobilisasi atau pembidaian sederhana sebelum korban dibawa ke fasilitas kesehatan.

Selain metode ceramah, mahasiswa juga memperagakan langkah pertolongan pertama agar peserta lebih mudah memahami.

Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan 2018, prevalensi fraktur di Indonesia mencapai 5,5 persen dari hampir 93 ribu kasus cedera yang dilaporkan. Kasus fraktur ekstremitas bawah, terutama patah tulang paha (femur), mendominasi angka tersebut.

“Penanganan awal fraktur yang tepat sangat menentukan kondisi pasien. Edukasi ini diharapkan membuat keluarga pasien dan masyarakat lebih siap ketika menghadapi kasus patah tulang di sekitarnya,” ujar Diah Mahmudah, perwakilan Humas PKRS RSD Balung.

Diah menambahkan, dengan edukasi ini, RSD Balung berharap masyarakat tidak hanya lebih paham soal fraktur, tetapi juga mampu menjadi penolong pertama yang kompeten, sehingga risiko komplikasi seperti perdarahan, infeksi, atau kecacatan permanen dapat diminimalkan.

Salah satu mahasiswa Keperawatan Unej, Efir Rifatun Nisak menjelaskan, kegiatan ini sekaligus mengasah keterampilan komunikasi dan praktik lapangan mahasiswa.

“Kami ingin ilmu yang dipelajari di kampus bisa langsung bermanfaat bagi masyarakat. Semoga peserta bisa lebih percaya diri melakukan pertolongan pertama fraktur dengan benar,” tuturnya. (*)

» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA

Pewarta : Fathur Rozi
Editor : Mahrus Sholih

Share:

Komentar & Reaksi

Berita Terbaru Lainnya