SUARA INDONESIA, JEMBER - Rumah Sakit Daerah (RSD) Balung semakin meneguhkan kiprahnya sebagai bagian penting Pemkab Jember dalam upaya menurunkan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB).
Melalui program Kopi Manis atau Kolaborasi Pengembangan Kompetensi Melalui Magang Antar Instansi, rumah sakit ini menjadi pusat magang bagi puluhan bidan puskesmas dengan fokus pada peningkatan keterampilan kegawatan maternal dan neonatal.
Program yang dibuka Kamis (28/8/2025) ini, diikuti 58 bidan dari 28 puskesmas di kabupaten setempat. Selama sebulan penuh, para bidan dibagi ke dalam sembilan kelompok untuk mendapatkan pengalaman praktik langsung di bawah pendampingan tenaga medis RSD Balung.
Kegiatan ini juga sejalan dengan program Bupati Jember, Muhammad Fawait, yang menargetkan penurunan AKI dan AKB, sebagai salah satu prioritas pembangunan kesehatan di kabupaten setempat.
Direktur RSD Balung, dr. Nurullah Hidajahningtyas, menjelaskan, RSD Balung tidak hanya hadir sebagai rumah sakit rujukan, tapi juga sebagai pusat pengembangan kapasitas tenaga kesehatan di Jember.
“Kegiatan Kopi Manis ini lahir dari semangat kolaborasi lintas instansi. Tujuannya untuk meningkatkan kompetensi para bidan puskesmas, agar lebih sigap menghadapi kegawatan ibu dan bayi,” ujarnya.
Menurut Dokter Nurullah, RSD Balung terus memperluas perannya dari pelayanan kuratif menjadi pusat edukasi dan pemberdayaan. Salah satunya lewat program Jalin Asmara (Jalin Asosiasi Masyarakat), kegiatan rutin yang mengajak lintas sektor berjejaring dan berdiskusi bersama untuk meningkatkan pelayanan kesehatan Kabupaten Jember, khususnya wilayah barat dan selatan.
“Rumah sakit harus menjadi bagian dari solusi jangka panjang. Dengan Kopi Manis, para bidan tidak hanya belajar teori, tapi langsung mendapatkan pengalaman klinis. Harapannya, setelah kembali ke puskesmas masing-masing, mereka bisa menerapkan keahlian baru untuk masyarakat,” tambahnya.
Lebih lanjut, Dokter Nurullah memaparkan, kegiatan ini bukan sekadar pelatihan teknis, melainkan juga refleksi akan pentingnya peran bidan sebagai garda terdepan keselamatan ibu dan bayi.
“Menjaga keselamatan ibu dan bayi adalah amanah besar. Dengan kolaborasi ini, kita bukan hanya berlatih meningkatkan keterampilan, tapi juga menebar manfaat, menanam amal jariyah, dan insyaallah menjadi bagian dari upaya penyelamatan generasi,” paparnya.
Program ini mendapat dukungan penuh dari lintas sektor. Plt Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Jember, Akhmad Helmi Luqman, hadir langsung pada pembukaan kegiatan itu. Pada kesempatan itu, dia mengingatkan pentingnya mengesampingkan ego sektoral.
“Kita harus bekerja sebagai tim. Dalam waktu dekat akan ada penugasan seribu tenaga kesehatan ke semua desa untuk mendata ibu hamil risiko tinggi,” jelasnya.
Sementara itu, Plt Kepala Badan Kepegawaian Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Jember, Rahman Hidayat, menekankan bahwa tenaga kesehatan tidak hanya dituntut kompeten, tetapi juga humanis. “Melayani masyarakat harus dengan hati, bukan sekadar rutinitas kerja,” ujarnya.
Dukungan akademis juga hadir dari Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas dr. Soebandi (UDS) Jember, Ai Nur Zannah. Menurutnya, kampus siap memperkaya materi dan menghadirkan ilmu terbaru untuk mendukung peningkatan kompetensi tenaga kesehatan.
“Kami ingin memastikan para bidan memiliki bekal keilmuan yang relevan dengan tantangan terkini di lapangan,” ucapnya. (*)
» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA
| Pewarta | : Fathur Rozi |
| Editor | : Mahrus Sholih |
Komentar & Reaksi