SUARA INDONESIA, JEMBER – Direktur RSD dr Soebandi Jember, dr I Nyoman Semita, menepis anggapan miring terkait program Keluarga Berencana (KB) permanen melalui Metode Operasi Wanita (MOW) dan Metode Operasi Pria (MOP).
Ia menegaskan, metode ini justru lebih aman, efektif, dan minim risiko dibandingkan jenis kontrasepsi lainnya seperti pil, suntik, atau spiral.
"KB MOW-MOP merupakan pilihan yang jauh lebih unggul dari sisi hasil, tidak menimbulkan efek samping seperti penambahan berat badan, infeksi, maupun ketidaknyamanan saat berhubungan suami istri," ujar dr Nyoman saat ditemui di RSUD dr Soebandi, Kecamatan Patrang, Kabupaten Jember, baru-baru ini.
Ia menyebut, masyarakat kerap ragu menjalani KB permanen karena diselimuti informasi yang keliru. Padahal, secara medis, metode MOW maupun MOP sangat direkomendasikan bagi pasangan yang sudah tidak ingin menambah jumlah anak.
Selain aman, masa pemulihan pascaoperasi juga tergolong singkat. "Pasien hanya butuh sekitar 15 menit untuk pemulihan. Setelah itu, bisa langsung pulang dan kembali beraktivitas seperti biasa," jelasnya.
Meski demikian, dr Nyoman mengakui terdapat kemungkinan kecil terjadinya kehamilan pasca-MOW atau MOP. Namun, ia menekankan bahwa risiko tersebut sangat rendah.
"Kalau sampai gagal, itu sangat jarang. Bisa saja karena sperma pria yang sangat kuat. Tapi secara teknis medis, peluang itu sangat kecil. Kita hanya bisa berikhtiar sebaik mungkin," tuturnya.
Ia mengimbau masyarakat agar tidak takut menjalani KB permanen. Menurutnya, metode ini tidak mengganggu produktivitas dan sangat cocok bagi pasangan yang sudah mantap menata kehidupan keluarga.
"Program ini bukan hanya aman, tapi juga praktis dan tidak mengganggu kapasitas kerja. Masyarakat tidak perlu ragu atau khawatir," pungkasnya. (*)
» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA
| Pewarta | : Fathur Rozi |
| Editor | : Mahrus Sholih |
Komentar & Reaksi