SUARA INDONESIA JEMBER

Kecelakaan Maut di Patrang Jember, Sopir Truk Tewas Setelah Diseruduk Kereta Logawa

Fathur Rozi - 17 February 2025 | 11:02
Peristiwa Kecelakaan Maut di Patrang Jember, Sopir Truk Tewas Setelah Diseruduk Kereta Logawa
Kondisi truk yang tertabrak kereta di perlintasan sebidang tanpa palang pintu di Lingkungan Baratan, Kecamatan Patrang, Jember, Jawa Timur, Senin (17/2/2025). (Foto: Sugeng Ming untuk Suara Indonesia)

SUARA INDONESIA, JEMBER- Pagi itu, langit Jember masih teduh saat Erpan (35) menjalankan truknya di jalanan yang sudah akrab dengannya. Ia bersama Jumadi, rekannya, melintasi Lingkungan Baratan, Kecamatan Patrang, seperti hari-hari biasanya.

Saat truk mendekati perlintasan sebidang tanpa palang pintu, beberapa warga yang berada di sekitar lokasi mulai berseru. "Berhenti! Ada kereta!" teriak Suto, seorang warga. Namun, teriakan itu seolah tak terdengar. Truk terus melaju.

Dalam hitungan detik, kereta api Logawa jurusan Banyuwangi-Jember muncul dari kejauhan. Masinis Dwi Cahyo S dan asistennya, Agus Hariyanto, tak bisa berbuat banyak. Laju kereta terlalu cepat, dan jaraknya dengan truk sudah terlalu dekat.

Pukul 08.27 WIB, tabrakan itu terjadi. Truk bernomor polisi P 8727 OP terdorong beberapa meter sebelum akhirnya terhempas ke pinggir rel. Erpan, sang sopir, tewas di tempat. Sementara Jumadi, yang duduk di sampingnya, terlempar keluar dan mengalami luka-luka.

Kereta sempat berhenti. Beberapa penumpang mendongak dari jendela, mencoba memahami apa yang baru saja terjadi. Kemudian, kereta melanjutkan perjalanan menuju Stasiun Jember.

Manager Hukum dan Humas PT KAI Daop 9 Jember, Cahyo Widiantoro, membenarkan kecelakaan itu. "Kami menyesalkan masih adanya pelanggaran di perlintasan sebidang. Kejadian ini menyebabkan perjalanan kereta tertunda selama 19 menit," ujarnya.

Cahyo kembali mengingatkan masyarakat akan pentingnya berhenti, menengok kanan-kiri, dan memastikan kondisi aman sebelum melintasi rel. "Jangan terlena. Satu kelalaian bisa berujung pada tragedi," pungkasnya.

Pagi yang awalnya biasa saja, berubah menjadi duka. Perlintasan sebidang itu kembali sunyi, meski bekas kecelakaan masih tampak jelas. Publik pun berharap, tragedi serupa tidak terulang kembali di kemudian hari. (*)

» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA

Pewarta : Fathur Rozi
Editor : Mahrus Sholih

Share:

Komentar & Reaksi

Berita Terbaru Lainnya