SUARA INDONESIA JEMBER

Tergerus Arus Sungai, Jembatan Swadaya Penghubung Dua Desa di Puger Ambrol

Fathur Rozi - 15 January 2025 | 10:01
Peristiwa Tergerus Arus Sungai, Jembatan Swadaya Penghubung Dua Desa di Puger Ambrol
Kondisi fondasi jembatan yang menghubungkan dua desa, Bagon dan Wringintelu di Kecamatan Puger, Jember, Jawa Timur. (Foto: Istimewa)

SUARA INDONESIA, JEMBER – Jembatan swadaya yang menghubungkan Desa Bagon dan Wringintelu di Kecamatan Puger, Kabupaten Jember, Jawa Timur, ambruk setelah digerus derasnya arus air pada Selasa sore (14/1/2025). Kejadian ini mengakibatkan salah satu fondasi jembatan runtuh dan akses warga terganggu.

Menurut Siyami Wulandari, seorang pedagang dawet yang berjualan tak jauh dari lokasi, kejadian berlangsung tak lama setelah ia melintasi jembatan tersebut. Ia mendengar suara gemuruh dari arah jembatan.

“Suaranya seperti benda besar jatuh. Begitu saya cek, tiang penyangga beton jembatan sudah ambruk. Kami langsung menutup jembatan agar tidak ada yang melintas, takut ada yang celaka,” ujar Wulandari, Rabu (15/1/2025).

Jembatan yang melintang di atas Kali Kasiyan ini merupakan akses penting bagi warga Desa Bagon dan Wringintelu, terutama para petani yang mengolah sawah di kedua desa. Dengan rusaknya jembatan, warga kini harus memutar sejauh 500 meter melalui Jembatan Merah Putih yang hanya bisa dilewati kendaraan roda dua.

Sarno, seorang juru irigasi setempat, mengungkapkan bahwa jembatan ini dibangun secara swadaya oleh warga pada tahun 1997. “Warga sini menyebutnya Jembatan Pak Klemuk. Ini sudah tiga kali dipindah karena selalu tergerus air,” jelas Sarno.

Sementara itu, Kepala Desa Bagon, Ahmad Holili menjelaskan, pemerintah desa sebenarnya telah merencanakan perbaikan jembatan dengan anggaran Rp 50 juta pada tahun ini. Namun, sebelum rencana tersebut terealisasi, fondasi jembatan sudah lebih dulu ambrol.

“Kami sudah menggelar musyawarah desa dan sepakat memperbaiki jembatan pada April atau Mei mendatang. Untuk sementara, warga diminta menggunakan jalur alternatif demi keselamatan,” kata Holili.

Sebagai langkah antisipasi, pemerintah desa bersama warga telah memasang tanda larangan berupa palang bambu untuk menutup akses jembatan. Sebab, jembatan sepanjang 20 meter dan lebar 1,5 meter ini, kondisinya kini melengkung di sisi timur, sehingga sangat berisiko jika tetap dilalui. (*)

» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA

Pewarta : Fathur Rozi
Editor : Mahrus Sholih

Share:

Komentar & Reaksi

Berita Terbaru Lainnya