SUARA INDONESIA JEMBER

Diskresi Demokrasi ala PWI

Redaksi - 29 May 2025 | 16:05
Pelayanan Publik Diskresi Demokrasi ala PWI
Sodiq Syarif, Penanggungjawab Redaksi Suaraindonesia.co.id. (Foto: Istimewa)

-Menyaksikan Dinamika Konfercab PWI Jember-

Oleh: Sodiq Syarif, Penanggungjawab Redaksi Suaraindonesia.co.id

Rabu 28 Mei kemarin, saya berkesempatan menghadiri konferensi Cabang (Konfercab) PWI (Persatuan wartawan Indonesia) Jember. Lokasinya sama dengan konfercab serupa tiga tahun lalu, yakni di Hotel Java Lotus, Jember.

Namun pada konfercab kali ini (sepengetahuan saya) agak sedikit beda. Ada kemajuan dinamika lumayan menarik. Setidaknya ada dua "kejutan" yang saya lihat. Pertama, adanya disekresi (kelonggaran) bagi peserta konfercab untuk memilih kandidat. Yang kedua, terjadi kompetisi sehat dua kandidat, tanpa intervensi pejabat.

Saya lima kali (sempat) mengikuti acara rutin tiga tahunan PWI Jember pasca reformasi ini. Biasanya, para kandidat tak begitu bergairah untuk berkompetisi. Karena hampir selalu "dikawal" oleh petinggi daerah. Tentu saja melalui orang-orang kepercayaannya.

Dan, itu mungkin juga dialami oleh banyak konfercab PWI lainnya di banyak daerah. Karenanya, yang terpilih adalah kandidat yang sudah "diprediksi". Biasanya yang dikehendaki oleh penguasa atau (istilah sekarang) kelompok oligarki selalu mulus memenangi pemilihan.

Bukan itu saja, dalam sesi pemilihan ketua (juga pengurus) nyaris tak ada kompetisi ketat antar kandidat. Bahkan sering diusahakan aklamasi. Selain diharapkan kondusif, juga dianggap lebih efisien. Bahkan efektif. Tak ada riak-riak bergelombang. Adem ayem, penuh kekeluargaan. Juga tinggal ketuk palu. Tentu saja diakhiri dengan tepuk tangan ramai-ramai.

Tetapi tidak demikian dengan konfercab Rabu kemarin. Gaungnya sudah mulai (sayup-sayup) terdengar hangat. Konon, terjadi "adu kreatif" antar tim sukses. Tentu dengan segala daya dan kemampuannya. Kebetulan yang muncul ada dua figur yang sama-sama potensial. Yang satu potensial semangat dan idealisme nya.

Satunya lagi potensial percaya diri untuk memenangi "pertarungan". Yang satu terkesan "penyerang ". Satunya lagi tipe "bertahan". Dua-duanya optimis akan unggul dan keluar sebagai pembawa amanah.

Sejak awal pembahasan tata tertib konfercab, suasana forum sudah terasa hangat. Ada juga yang manut-manut saja terhadap draf yang dibacakan ketua sidang, Cak Mahmud, dari PWI Jatim. Ada pula yang cermat penuh "curiga" atas butir-butir tatib. Termasuk landasan pasal PD (peraturan dasar) dan PRT (peraturan rumah tangga) PWI.

Salah satu butir tatib yg diperdebatkan adalah terkait peserta yang punya hak suara (memilih/dan dipilih). Dalam PD dan PRT PWI memang ditegaskan bahwa yang memiliki hak suara pemilihan adalah anggota biasa. Yakni, anggota PWI kelas "senior". Jumlahnya 29 orang. Sedangkan anggota muda tidak berhak memilih. Apalagi dipilih. Jumlahnya 10-an orang.

Namun dalam perkembangannya mengalami perubahan signifikan. Yakni, anggota muda pun (akhirnya) berhak memilih. Ini tak lain karena banyak yang protes dengan beragam alasan. Salah satunya justru anggota muda lebih baik kinerjanya. Sering muncul di berbagai kegiatan. Termasuk betah di kantor Pwi. Produktif lagi.

Ini memang "terobosan" Kreatif. Terasa adil. Menambah semangat para yunior. Meski mungkin (dianggap) nabrak konstitusi. Saya sangat setuju alasan Cak Mahmud Suharmono, ketua sidang. Yakni, "ini bukan putusan Plt Ketua PWI Jatim, lho. Tapi aspirasi dan kesepakatan forum sidang (konfercab)... " tandas Cak Mahmud.

Cak Mahmud memang terasa dilematis. Tidak. Mengikuti arus bawah (forum sidang) kuatir dianggap diktator. Kalo mengiyakan begitu saja (masuk kategori) nabrak konstitusi. Alhamdulillah, akhirnya terselesaikan. Ada diskresi. Demokratis, lagi.

Bagaimana dengan munculnya dua sosok kandidat yang sama-sama bersemangat maju konfercab tadi? Itu menjadi pilihan Masing-masing peserta konfercab. Ada yang memiliki sosok kalem, low profile, terukur, gampang "diajak lobi", dan seterusnya. Atau memilih sosok super semangat, argumentatif, terkesan progresif, dan bermimpi reformatif, dst…

Bahwa akhir nya banyak sahabat menjatuhkan coblosannya ke sosok pertama, itulah pilihan. Bahwa ada yang merasa kecewa atau tertawa, itulah demokrasi. Tak ada yang kalah atau dikalahkan. Hanya kemenangannya tertunda. Lusa, bisa bersanding ato malah bertanding kembali. Sepanjang konstitusi mengizinkan.

Kini, yang harus diperjuangkan oleh mandataris konfercab adalah membawa PWI lebih bergairah, lebih bermartabat, lebih profesional. Syukur-syukur lebih meningkat kesejahteraannya.

Ingat, wartawan sejak lama dikenal sebagai "makhluk berkelas". Ya, kelas profesinya. Ya, kelas intelektualnya. Ya, kelas martabatnya.Ya, kelas integritasnya. Bahkan banyak yang menganggap berkelas juga ekonominya.

Jangan sampai status dan martabat wartawan dianggap sebagai entitas biasa-biasa saja. Ga ada bedanya dengan orang kebanyakan. Bedanya, kita hanya menggunakan jaket, rompi, dan tas ransel berlogo "Pers". Sekali lagi, jangan sampai.

Wartawan adalah harapan masyarakat. Dekat dengan masyarakat. Membela kebenaran. Berpihak pada kejujuran. Menjaga jarak yang sama antara masyarakat dan pejabat. Dan, yang tidak boleh dilupakan bisa menjaga moralitas. Tidak hanya melihat isi tas. (*)

» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA

Pewarta : Redaksi
Editor : Mahrus Sholih

Share:

Komentar & Reaksi

Berita Terbaru Lainnya