SUARA INDONESIA JEMBER

Hadirkan Budaya Bali di Karnaval Mojomulyo, SMPN 3 Puger Sajikan Kisah Calon Arang hingga Tari Kecak

Fathur Rozi - 09 October 2025 | 06:10
News Hadirkan Budaya Bali di Karnaval Mojomulyo, SMPN 3 Puger Sajikan Kisah Calon Arang hingga Tari Kecak
Siswa-siswi SMPN 3 Puger saat menjalani sesi foto bersama pada acara Karnaval Budaya Desa Mojomulyo, Kecamatan Puger, Jember, Jawa Timur, Rabu (8/10/2025). (Foto: Istimewa)

SUARA INDONESIA, JEMBER - Siang itu, Rabu (8/10/2025), Desa Mojomulyo telah ramai ketika dentuman gamelan mulai terdengar. Terik yang mulai menyengat tak menyurutkan langkah para siswa-siswi yang telah siap melakukan atraksi. Mereka menatap jalan di depannya. Menahan gugup, lalu melirik guru di sebelah.

“Tenang, Nak. Kita sudah melakukan persiapan cukup matang. Inyaallah akan berjalan lancar hingga acara paripurna,” ucap Mohamad Solikin, Kepala SMPN 3 Puger, sembari menepuk pundak salah satu muridnya.

Suara Solikin pelan, tapi cukup menenangkan bagi barisan penari yang sejak beberapa hari terkahir sudah berlatih. Di sela tenda-tenda penonton, panitia memutar musik pembuka. Dari pelantang suara, pembawa acara berseru dengan semangat yang menular.

“Hadirin sekalian, mari kita sambut dengan tepuk tangan meriah! Persembahan dari sekolah penuh prestasi. SMPN 3 Puger!” pekiknya.

Seketika, suasana desa yang biasanya sunyi di hari biasa itu berubah menjadi panggung megah. Di tengah sorak penonton, lagu Berkibarlah Bendera Negeriku mengalun. Suara lembut Sila Rahmadina Agustin, siswi kelas delapan, menggema dengan nada bergetar tapi penuh semangat.

Baris itu menggetarkan banyak hati. Beberapa orang tua di tepi jalan berdiri sambil menepuk tangan mengikuti irama. Bagi mereka, anak-anak ini bukan sekadar peserta karnaval. Mereka adalah harapan, cerminan kecil tentang bagaimana sekolah menjadi ruang tumbuh kebanggaan dan identitas.

Menghadirkan Budaya Bali

Tahun ini, SMPN 3 Puger datang ke Pagelaran Pesona Budaya Mojomulyo 2025 dengan tema “Budaya Bali: Pesona Negeri.” Sebuah pilihan yang tidak main-main.

Puluhan siswa mengenakan busana adat Bali. Memakai kebaya putih, kamen berwarna emas, dan udeng di kepala. Mereka membawa aroma Pulau Dewata ke tanah selatan Jember. Menghadirkan eksotisme budaya lewat gerak, warna, dan irama.

“Anak-anak kami ingin belajar bahwa budaya tak hanya dipelajari lewat buku. Budaya harus dihidupkan, dirasakan, dan disampaikan kembali,” kata Solikin setelah pertunjukan usai.

Kalimat itu sederhana, tapi mengandung filosofi pendidikan yang jarang terdengar dari kepala sekolah di daerah.

Menyambut yang Suci

Iringan gamelan berubah lembut. Bunga-bunga kamboja beterbangan di udara. Lima penari perempuan melangkah pelan ke depan. Gerakannya lembut, seperti doa yang disampaikan lewat ujung jari.

“Tari Pendet adalah persembahan suci kepada para dewa,” suara narator terdengar dari pelantang suara. “Kini, ia menjadi lambang keramahtamahan masyarakat Bali bagi siapa pun yang datang,” imbuhnya.

Setiap langkah mereka bercerita. Dalam selembar kain, sehelai bunga dan tatapan mata, tersimpan nilai kesucian dan ketulusan. Penonton diam. Hanya terdengar suara gamelan dan desir angin yang membawa harum dupa di sepanjang jalan yang dilalui.

Bagi anak-anak SMP itu, tarian bukan sekadar gerakan. Ia adalah bentuk penghormatan, cara sederhana untuk memahami arti ketulusan dan keindahan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata.

Sajikan Kisah Calon Arang

Beberapa menit kemudian, suasana berubah. Irama gamelan menjadi berat. Dari balik panggung, muncul sosok berselubung hitam dengan rambut acak-acakan dan mata tajam. Dialah Calon Arang, perempuan sakti yang membawa kutukan dan wabah karena rasa sakit hati dan pengkhianatan.

“Tapi di balik amarahnya,” narasi menggema, “ada luka, ada kehilangan.”

Anak-anak SMPN 3 Puger menampilkan kisah klasik itu bukan untuk menakut-nakuti, tapi untuk mengingatkan bahwa di balik legenda selalu ada manusia yang terluka. Ketika tokoh Calon Arang berteriak, beberapa penonton anak-anak menutup mata mereka, tapi sebagian lain terpaku. Mereka tersihir oleh dramatik dan makna di baliknya.

Lalu, Mpu Bharadah muncul. Dengan gerakan tegas, ia menandingi kekuatan gelap Calon Arang. Cahaya dan kegelapan bertemu di tengah panggung. Dan untuk sejenak, Mojomulyo seolah menjadi arena pertempuran spiritual.

“Di situ saya melihat anak-anak belajar nilai moral tanpa harus disuruh menghafal,” kata Solikin kemudian. “Mereka memahami bahwa kemarahan dan dendam bisa menghancurkan, tapi kebajikan akan selalu menemukan jalannya,” tambahnya.

Disusul Tari Kecak

“Cak-cak-cak-cak!”

Suara puluhan anak laki-laki menggema dari tengah jalan. Mereka duduk bersila membentuk lingkaran. Tak ada alat musik, hanya irama yang lahir dari tubuh dan semangat.

Tari Kecak merupakan simbol harmoni dan keberanian. Di Bali, tarian ini kerap menjadi atraksi pariwisata. Namun di Mojomulyo, ia tampil sebagai pesan tentang kebersamaan.

“Suara ‘cak’ bukan sekadar bunyi,” jelas Solikin. “Itu simbol kekompakan. Sama seperti di sekolah kami, semua bergerak bersama. Dari hati,” ucapnya.

Ketika pekikan “cak” terus bergema, beberapa guru dan warga ikut menepuk tangan, larut dalam irama. Seketika, batas antara penonton dan penampil lenyap. Yang tersisa hanya rasa bangga terhadap anak-anak, terhadap budaya, dan makna pendidikan yang membumi.

Bukan Sekadar Karnaval

Selesai penampilan, anak-anak berbaris sambil tersenyum lebar. Wajah mereka basah oleh keringat, tapi mata mereka berbinar. Tepuk tangan panjang menyertai langkah mereka menuju tenda istirahat.

Namun bagi Solikin, karnaval ini bukan akhir, melainkan pernyataan. “Budaya bukan milik masa lalu. Ia hidup di anak-anak ini. Di setiap latihan mereka, di setiap keberanian mereka tampil,” tuturnya, pelan.

SMPN 3 Puger mungkin bukan sekolah besar di kota, tapi di situlah semangat juara ditempa. Sekolah ini sudah menorehkan berbagai prestasi. Mulai Juara 1 Atletik se-Wilayah Jember Selatan, Juara 3 Gerak Jalan Mojosari, hingga Juara Pencak Silat Tingkat Kabupaten di ajang Banyuwangi Cup.

Sementara di atas panggung budaya, mereka tidak hanya membawa piala, tapi membawa pesan: pendidikan yang sejati tak hanya melahirkan juara lomba, tapi juga manusia yang berakar pada budaya.

Menjelang sore, acara semakin ramai. Debu naik bersama langkah penonton merangsek ke aspal. Di tepi jalan, Sila Rahmadina Agustin masih memegang mikrofon yang ia gunakan untuk menyanyi tadi pagi.

“Aku deg-degan banget tadi. Tapi pas lihat bendera dikibarkan, aku kayak mau nangis. Rasanya bangga,” ujarnya. Kalimat sederhana itu menutup hari dengan indah.

Karnaval budaya kali ini bukan sekadar hiburan tahunan, tapi cara Mojomulyo merayakan identitas dan kerja keras. Dari para pelajar yang menari di bawah matahari, lahir kesadaran baru bahwa menjaga budaya berarti menjaga diri sendiri.

Ketika malam turun menyongsong fajar dan gamelan terakhir berhenti, Mojomulyo kembali sunyi. Tapi gema “cak-cak-cak” dan lagu Berkibarlah Bendera Negeriku dari suara siswa-siswi SMPN 3 Puger itu, masih terngiang seolah menggantung di udara. Seperti doa yang berharap semangat tersebut tak pernah padam. (*)

» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA

Pewarta : Fathur Rozi
Editor : Mahrus Sholih

Share:

Komentar & Reaksi

Berita Terbaru Lainnya