SUARA INDONESIA JEMBER

Senyum Vita di Lorong Swalayan, 129 Anak Yatim Sidomulyo Bergembira Sambut Hari Raya

Fathur Rozi - 12 March 2026 | 19:03
Features Senyum Vita di Lorong Swalayan, 129 Anak Yatim Sidomulyo Bergembira Sambut Hari Raya
Kepala Desa Sidomulyo, Kecamatan Silo, Kamiludin, menemani Vita, bocah yatim, memilih tas sekolah di pusat perbelanjaan Roxy Square, Jember, Kamis (12/3/2026). (Foto: Istimewa)

SUARA INDONESIA, JEMBER - Pagi itu, di antara deretan rak pakaian dan tas sekolah yang berwarna-warni di pusat perbelanjaan Jember Roxy Square, seorang bocah perempuan tampak berdiri agak lama di depan sebuah etalase. Namanya Vita, tujuh tahun, seorang yatim yang pagi itu datang bersama ibunya dari Desa Sidomulyo, Kecamatan Silo.

Tangannya memegang dua tas sekolah yang hampir sama. Ia menimbang-nimbang, seolah sedang memikirkan sesuatu yang penting. Sesekali ia menoleh kepada sang ibu, lalu kembali melihat tas yang digenggamnya. Di sampingnya berdiri Kepala Desa Sidomulyo, Kamiludin, bersama istrinya. Mereka memperhatikan dengan senyum tipis. Membiarkan Vita memilih sendiri apa yang ia sukai.

Di sekeliling mereka, suasana swalayan terasa riuh. Menjelang Lebaran, pengunjung memadati setiap lorong. Keranjang belanja bersenggolan, suara kasir bersahut-sahutan, dan anak-anak kecil berlarian di antara rak pakaian baru.

Namun pagi itu, keramaian terasa sedikit berbeda.

Di beberapa sudut toko, puluhan anak terlihat sibuk memilih baju. Mereka datang berombongan, tertawa, saling menunjukkan pilihan masing-masing. Ada yang mencoba peci, ada yang mengangkat gamis ke depan cermin, ada pula yang berdebat kecil dengan temannya soal warna baju yang paling bagus.

Mereka adalah 129 anak yatim piatu dari Desa Sidomulyo.

Sejak pagi, tiga bus besar membawa mereka dari desa menuju kota. Bukan untuk berwisata, melainkan untuk satu pengalaman yang mungkin tidak sering mereka rasakan: memilih sendiri pakaian baru untuk menyambut Idul Fitri.

“Ya, hari ini kami membawa 129 anak yatim piatu dari Desa Sidomulyo,” kata Kamiludin ketika ditemui di sela kegiatan.

Program tersebut bukan kegiatan spontan. Ia telah menjadi agenda tahunan desa selama lima tahun terakhir.

“Sejak 2022 sampai hari ini, ini sudah tahun kelima kami membawa anak-anak yatim berbelanja kebutuhan Lebaran,” ujarnya.

Kamiludin menjelaskan, kegiatan tersebut dibiayai dari hasil pemanfaatan Tanah Kas Desa (TKD) Sidomulyo yang disewakan setiap tahun. Pendapatan dari aset desa itu kemudian dialokasikan khusus untuk program kesejahteraan anak yatim.

Jumlah pendapatan dari penyewaan tanah desa tersebut, kata dia, relatif tetap dalam beberapa tahun terakhir.

“Pendapatan dari tanah kas desa sekitar Rp212,5 juta per tahun. Dari 2022 sampai 2026 jumlahnya masih sama,” katanya.

Dari dana itulah pemerintah desa membiayai berbagai kebutuhan anak-anak yatim. Bukan hanya untuk membeli pakaian Lebaran, tetapi juga untuk THR, tabungan pendidikan, hingga dukungan usaha produktif.

Dalam kegiatan belanja tahun ini, setiap anak mendapatkan anggaran Rp500.000.

“Jadi hari ini 129 anak dikalikan Rp500.000. Nominalnya bisa dihitung sendiri,” ujar Kamiludin, sambil tersenyum.

Pendekatan tersebut sengaja dipilih agar anak-anak tidak sekadar menerima bantuan dalam bentuk paket barang. Mereka diberi kesempatan memilih sendiri apa yang mereka inginkan, seperti anak-anak lain pada umumnya menjelang Lebaran.

Di antara lorong-lorong toko yang dipenuhi warna baju baru, pilihan itu mungkin tampak sederhana. Tetapi bagi sebagian anak, momen tersebut menjadi pengalaman yang sangat berarti.

Vita akhirnya memutuskan pilihannya. Ia menggenggam tas sekolah berwarna cerah, lalu memperlihatkannya kepada ibunya. Senyum kecil mengembang di wajahnya. Senyum yang tidak terlalu ramai, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa ia telah menemukan apa yang ia cari.

Bagi pemerintah desa, kebahagiaan kecil seperti itulah yang ingin mereka hadirkan.

Kamiludin berharap kegiatan tersebut tidak hanya memberi manfaat ekonomi, tetapi juga membawa keberkahan bagi desa.

“Semoga kegiatan ini menjadi wasilah doa anak-anak yatim, agar Desa Sidomulyo menjadi desa yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur,” katanya.

Sebuah desa yang warganya bahagia, sejahtera, dan hidup dalam kebersamaan.

Sementara itu, di tengah keramaian swalayan yang semakin padat menjelang siang, anak-anak itu masih sibuk memilih. Tawa mereka terdengar bersahutan, bercampur dengan suara pengunjung lain yang berlalu-lalang.

Dan bagi Vita, seperti juga bagi anak-anak lainnya, pagi itu mungkin akan menjadi salah satu kenangan menyongsong Lebaran yang tak mudah dilupakan. (*)

» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA

Pewarta : Fathur Rozi
Editor : Mahrus Sholih

Share:

Komentar & Reaksi

Berita Terbaru Lainnya