SUARA INDONESIA, JEMBER - Siang itu, suasana di serambi Masjid Al-Baiturrohmah, Kecamatan Sumbersari, mendadak terasa berbeda ketika seorang nenek renta melangkah pelan dengan tubuh bungkuk. Sebuah tongkat bambu menjadi penopang di tangan kiri, sementara tangan kanannya menjinjing keranjang berisi telur asin.
Senyumnya ramah, meski wajahnya sudah penuh keriput. “Telur asin, Cong?” sapanya lirih kepada setiap orang yang ia temui.
Namanya Hamidah Napia. Usianya kini hampir menembus 97 tahun, lebih tua dari umur Republik. Setiap hari ia tetap setia menjajakan dagangan dari rumahnya di Kelurahan Wirolegi menuju Jalan Sriwijaya. Jarak dua hingga tiga kilometer ditempuh dengan langkah kecil, lambat, tetapi penuh keyakinan.
Mbah Napia adalah saksi hidup dari begitu banyak zaman: Hindia Belanda, Orde Lama, Orde Baru, hingga era reformasi. Ia tumbuh sebagai bagian dari “wong cilik” yang tak sempat merasakan bangku sekolah, apalagi belajar bahasa Belanda meski hidup berdampingan dengan mereka.
Hidupnya ditempa kerja keras. Bersama almarhum suami yang bekerja sebagai tukang becak, Mbah Napia membesarkan lima anak. Dari kayuhan becak itulah keluarga kecilnya bisa membeli sebidang tanah untuk membangun rumah, tempat generasi demi generasi anak cucunya kini berteduh.
“Endak papa gak punya gigi. Tidak pikun sudah untung,” katanya sambil tertawa, menunjukkan gusi yang sudah lama tak berteman dengan gigi.
Kegiatan berjualan telur asin sudah ia lakukan sejak masa Presiden Soeharto berkuasa, jauh sebelum krisis moneter 1997. Hingga kini, setiap pagi keranjang berisi 50 butir telur asin ia bawa menyusuri jalanan kota.
“Dari jam tujuh sampai mau Dhuhur. Kan enak, selesai jualan bisa langsung salat,” ucapnya, sederhana.
Penghasilan yang didapat hanya sekitar Rp40.000 hingga Rp50.000 per hari. Jumlah yang kecil, namun cukup bagi Mbah Napia. Lebih dari sekadar mencari nafkah, berjualan adalah caranya menjaga tubuh tetap bergerak.
“Anak cucu melarang, tapi kalau jualan kan gerak. Jadi sehat,” tuturnya, sembari tersenyum.
Keranjang berisi telur asin itu ternyata cukup berat. Saat masih penuh 50 butir, bobotnya bisa membuat orang muda sekalipun kelelahan. Namun bagi Mbah Napia, beban itu adalah bagian dari keseharian yang tak pernah dikeluhkan. “Tadi pagi malah 50 biji, Cong. Lebih berat dari itu,” ujarnya, sambil tertawa kecil.
Kini, Mbah Napia hidup di tengah keluarga besar. Ia memiliki 5 anak, 17 cucu, 23 cicit, bahkan seorang canggah, atau kreppek dalam bahasa Madura, yang baru berusia tiga tahun.
Di usia senjanya, Mbah Napia tetap memilih berjalan di lorong yang sama setiap hari, berjualan telur asin dengan keranjang dan tongkat bambu.
Dari wajahnya, terpancar keteguhan yang seolah ingin berpesan: hidup bukan sekadar panjang umur, melainkan bagaimana hari-hari dijalani dengan sabar, ikhlas, dan penuh syukur. (*)
» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA
| Pewarta | : Fathur Rozi |
| Editor | : Mahrus Sholih |
Komentar & Reaksi