SUARA INDONESIA, JEMBER – Malam itu, aula Ahmad Zainuri Universitas Muhammadiyah Jember tak seperti biasanya. Usai salat Isya, Jumat malam, 4 Juli lalu, satu per satu mahasiswa mulai memadati ruangan. Kursi-kursi yang disiapkan panitia, sebanyak 500 buah, dalam sekejap penuh.
Sisanya? Mereka berdiri. Tak ada yang mengeluh. Semua menatap panggung dengan mata berbinar, seolah tahu bahwa malam ini akan berbeda. Dan memang benar, malam itu adalah tentang suara-suara yang jarang terdengar. Suara muda Nusantara.
Festival Budaya 2025, yang diinisiasi oleh mahasiswa Ilmu Komunikasi dan Psikologi Unmuh Jember malam itu, bukan sekadar pentas seni biasa. Ada yang lebih dalam dari sekadar penampilan apik dan tata cahaya megah.
Di sana ada semangat. Ada pesan. Ada suara Gen Z yang tak ingin hanya diam di tengah arus budaya populer yang terus bergulir tanpa henti.
Zinatul Hayati, sang ketua panitia, berdiri di balik layar dengan mata berbinar. Ia tersenyum penuh harap. “Kami ingin membuktikan kalau Gen Z bisa bersuara. Bisa peduli. Bisa tampil dan bangga dengan budaya yang kita punya,” ujarnya.
Ia tahu, selama ini generasinya sering dicap apatis, malas gerak, sibuk dengan gawai. Tapi malam itu, panggung budaya membalikkan semua stereotip tersebut.
Tema Suara Muda Nusantara menjadi roh dari setiap detik yang mengisi festival. Enam penampilan dari berbagai daerah mengisi malam, masing-masing dengan warna dan cerita yang berbeda.
Dari Aceh, hadir kisah “Harimau Betina dari Tanah Rencong”, sebuah simbol kekuatan perempuan dan perlawanan. Jawa Tengah membawa “Seribu Tapi Tak Satu”, refleksi kebhinekaan yang belum selesai. Malang menyuguhkan “Darah di Balik Mahkota”, kisah simbolik tentang harga perjuangan.
Banyuwangi turut memeriahkan dengan “Legenda di Ujung Timur”, menghadirkan cerita lokal yang dikemas modern. Bali menghadirkan “Waktu Berbisik di Bawah Terangnya Bulan Purnama”, sebuah pertunjukan yang puitis dan meditatif.
Dan di luar dugaan, festival ditutup dengan penampilan mendadak dari tim tari Papua. Lagu-lagu seperti Apuse, Sajojo, hingga Yamko Rambe Yamko menggema di aula, menyatukan seluruh Indonesia dalam satu tarikan napas.
Bukan hanya penampilan yang memukau, tapi cara mereka mengemasnya. Tradisi bertemu tren, kebudayaan lama bersanding dengan sentuhan kekinian. Tak ada yang kaku, tak ada yang dipaksakan. Semuanya mengalir alami. Dari hati anak-anak muda yang mencintai negerinya.
“Ini baru awal,” kata Zinatul, setelah acara usai. Ia masih belum sepenuhnya percaya bahwa ratusan orang rela berdiri selama hampir dua jam, hanya demi sebuah pertunjukan budaya. Tapi itu nyata. Ia melihatnya sendiri.
Baginya, panggung kecil malam itu adalah bukti bahwa Gen Z tak kehilangan arah. Mereka hanya butuh ruang untuk bicara, untuk berkarya, untuk mencintai Indonesia dengan cara mereka sendiri.
“Lewat suara muda ini, kami ingin tunjukkan bahwa budaya Indonesia jauh lebih keren dari tren luar. Tinggal bagaimana kita mau atau tidak untuk menjaga dan merayakannya,” ucap Zinatul, menutup malam dengan keyakinan. (*)
» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA
| Pewarta | : Fathur Rozi |
| Editor | : Mahrus Sholih |
Komentar & Reaksi