SUARA INDONESIA, JEMBER– Senyum ceria tergambar jelas di wajah Rahman saat ia mengangkat satu per satu baju pilihannya. Hari ini, ia bisa memilih sendiri pakaian Lebaran yang diinginkannya. Sesuatu yang tak selalu bisa ia lakukan.
“Senang, bisa beli tiga baju sekaligus, juga celana dan sarung untuk Lebaran,” katanya dengan mata berbinar, saat memilih pakai di Toko Jadi, kawasan Talangsari, Kecamatan Kaliwates, Jember, Senin (24/3/2025).
Rahman bukan satu-satunya anak yang berbahagia hari itu. Bersama 150 anak yatim lainnya dari Desa Sidomulyo, Kecamatan Silo, ia diajak berbelanja baju Lebaran ke salah satu pusat perbelanjaan di Jember. Ini bukan kali pertama, melainkan tahun keempat Pemerintah Desa Sidomulyo menggelar tradisi yang telah menjadi harapan bagi anak-anak yatim di desa itu.
Di balik kebahagiaan mereka, ada sosok yang selalu memastikan program ini berjalan: Kepala Desa Sidomulyo, Kamiludin. Dengan suara penuh keyakinan, ia menjelaskan, kegiatan ini adalah bentuk komitmen desa untuk membahagiakan anak-anak yatim, memastikan mereka bisa merayakan Idul Fitri dengan penuh suka cita, layaknya anak-anak lain seusia mereka.
“Setiap tahun kami alokasikan anggaran dari hasil sewa Tanah Kas Desa (TKD). Dana ini terbagi untuk tiga hal: bantuan pendidikan, kebutuhan Lebaran anak yatim, dan usaha produktif berupa Café Gapuro, yang keuntungannya juga kembali untuk mereka,” terang Kamiludin.
Pagi itu, dua bus besar, satu bus mini, dan dua minibus Elf Long membawa rombongan anak-anak menuju pusat perbelanjaan di Talangsari, Kaliwates, Jember. Setiap anak diberi kebebasan memilih baju dengan anggaran Rp500 ribu per orang. Tidak ada batasan, tidak ada campur tangan orang dewasa. Mereka bebas menentukan sendiri pakaian yang akan mereka kenakan di hari kemenangan nanti.
Adi Santoso, pemilik toko Jadi Fashion, mengaku terkejut saat Kamiludin menghubunginya semalam sebelum acara. “Saya sempat lupa kalau hari ini ada rombongan dari Sidomulyo,” ungkapnya sambil tersenyum.
Namun, melihat ratusan anak yatim memilih baju dengan riang, Adi merasa tergerak untuk ikut berbagi. Ia pun memberikan diskon 15-20 persen dan menyiapkan bingkisan sembako serta uang tunai untuk masing-masing anak.
“Bagaimanapun juga, kami ingin ikut berbagi kebahagiaan. Anak-anak ini pantas mendapatkan kebahagiaan yang sama seperti anak-anak lain di luar sana,” kata Adi.
Hari ini, Kades Sidomulyo kembali membuktikan bahwa desa bukan sekadar tempat tinggal, tapi rumah yang peduli dan merangkul mereka yang membutuhkan.
Dan bagi Kamiludin, program ini bukan sekadar agenda tahunan, melainkan ikhtiar untuk memastikan tidak ada anak yatim di desanya yang merasa sendiri. “Mereka adalah tanggung jawab kita bersama,” pungkas kepala desa yang akrab disapa Mas Kades tersebut. (*)
» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA
| Pewarta | : Fathur Rozi |
| Editor | : Mahrus Sholih |
Komentar & Reaksi