SUARA INDONESIA, JEMBER- Angin pagi di Desa Kasiyan Timur, Kecamatan Puger, Jember, berembus lembut saat sekelompok orang dari Sekolah Perempuan Jember melangkah masuk ke UPT Pelayanan Sosial Tresna Werdha. Senyum mengembang di wajah mereka, membawa semangat yang siap dibagikan.
Hari itu, Sabtu, 15 Februari 2025, bukan sekadar peringatan Hari Kasih Sayang, tetapi juga menjadi ajang untuk menabur cinta kepada mereka yang telah menjalani puluhan tahun kehidupan.
Di halaman panti, suasana mulai meriah. Para lansia duduk berbaris, menunggu dimulainya senam pagi. Musik lembut mengalun, dan ketika gerakan pertama diperagakan, tubuh-tubuh yang renta itu mulai mengikuti.
Beberapa masih gesit, lainnya bergerak dengan penuh kehati-hatian. Namun, satu yang pasti: keceriaan tak dapat disembunyikan. Tawa dan canda mengisi udara, mencairkan batas antara usia muda dan tua.
Setelah senam, acara berlanjut ke sesi permainan. “Siapa nama presiden pertama Indonesia?” tanya salah satu panitia. Seorang nenek dengan suara lantang menjawab, “Soekarno!” Sorak-sorai pun membahana.
Tak hanya itu, beberapa kakek nenek unjuk bakat. Ada yang menyanyi, berpuisi, bahkan berpantun. Satu per satu mereka menerima hadiah kecil, namun lebih dari itu, mereka menerima perhatian dan rasa dihargai.
Namun, momen paling menyentuh datang ketika para lansia menerima bunga. Seikat kecil dalam genggaman mereka seolah menjadi simbol mereka tidak sendiri, bahwa masih ada yang peduli. Beberapa mata berkaca-kaca, menggenggam erat bunga itu seakan takut kehilangan kehangatan yang sedang mereka rasakan.
"Hari Kasih Sayang bukan hanya tentang pasangan, tapi juga tentang orang tua, mereka yang lebih dulu berjalan di kehidupan ini," ujar Leni Maulita Sari, Kepala Sekolah Perempuan Jember.
Kata-katanya mengandung pesan mendalam, mengingatkan bahwa kasih sayang sejati tak mengenal batas usia.
Tak berhenti di sana, kegiatan hari itu juga melibatkan siswa-siswi pecinta alam dari Wanagraha SMAN Balung. Bersama para lansia, mereka menanam pohon di sekitar panti sebagai wujud cinta terhadap bumi.
“Menanam pohon itu seperti menanam harapan,” kata salah satu siswa sambil merapikan tanah di sekitar bibit yang baru ditanam.
Kegiatan ini meninggalkan kesan mendalam, bukan hanya bagi lansia, tetapi juga bagi mereka yang berpartisipasi. Di akhir acara, banyak lansia yang enggan melepas genggaman tangan para relawan. Ada yang berbisik pelan, “Terima kasih, Nak. Semoga kalian datang kembali.”
Di peringatan hari Valentine yang identik dengan cinta ini, Sekolah Perempuan Jember telah membuktikan bahwa kasih sayang tak hanya bisa diungkapkan dengan kata-kata, tetapi juga dengan tindakan nyata. Karena cinta sejati adalah tentang memberi, tanpa berharap kembali. (*)
» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA
| Pewarta | : Redaksi |
| Editor | : Mahrus Sholih |
Komentar & Reaksi