default ads banner CODE: NEWS / LARGE LEADERBOARD / 970x90

Hendy Siswanto: Kita Butuh Islam Ramah

Hendy Siswanto: Kita Butuh Islam Ramah
Religi
Habib Syekh Dr. Samir al-Khouli al-Rifa’i saat menghadiri Daurah Aswaja Internasional di Masjid Besar Baitul Amin, Kabupaten Jember, Kamis (17/10).
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 1 / 468x60

JEMBER– Bakal Calon Bupati Jember, Hendy Siswanto, turut menghadiri Daurah Aswaja Internasional di Masjid Besar Baitul Amin, Kabupaten Jember, Kamis (17/10). Acara tersebut merupakan rangkaian menyambut Hari Santri yang jatuh pada 22 Oktober 2019.

Habib Syekh Dr. Samir al-Khouli al-Rifa’i dari Global University Lebanon yang menjadi pembicara menyampaikan bahwa segala bentuk gerakan ekstrem adalah bertentangan dengan agama Islam. “Karena Islam diturunkan memang untuk menjaga akhlak manusia,” ujarnya dalam bahasa Arab, yang diterjemahkan oleh Ustadz Mastour.

Ia juga mengatakan bahwa segala perbuatan ekstrem yang mengatasnamakan agama adalah tindakan memanipulasi agama. Sebab kenyataannya Islam tidak pernah mengajarkan hal-hal ekstrem. “Tindakan ekstrem yang mengatasnamakan agama itu berarti sama dengan memanipulasi agama,” lanjutnya.

Daurah Aswaja Internasional kali ini mengusung tema “Melawan Bahaya Radikalisme-Ektremisme dengan Nilai-Nilai & Ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja).” Nahdhatul Ulama merupakan salah satu organisasi yang sangat konsen dan aktif menyuarakan Islam ramah.

Sekretaris Aswaja NU Center Jember, Moh Kholili menegaskan bahwa pihaknya akan terus melakukan penguatan nilai-nilai, ajaran, dan amaliah Aswaja. Selain bertujuan untuk memperkokoh internalisasi nilai-nilai Aswaja, juga sekaligus menghalau pengaruh dan tindakan yang berbau radikal.

“Kami akan terus melakukan itu (penguatan nilai-nilai Aswaja) untuk membentengi diri mereka dari radikalisme,” jelasnya.

Ia melanjutkan bahwa kemerdekaan bangsa Indonesia tidak lepas dari perjuangan para ulama, kiai, dan santri. Karena itu, hasil perjuangan tersebut harus disyukuri dan dijaga bersama-sama dari segala bentuk gerakan radikal. Sebab jika tidak, mereka terus-menerus merongrong NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) dengan menggunakan jargon agama.

 “Cinta tanah air adalah bahian dari ajaran agama yang harus kita pupuk kembangkan,” tuturnya.

Hal yang sama juga diperjuangkan oleh Hendy Siswanto. Sebagai orang yang terlahir di lingkungan dan keluarga Nahdlatul Ulama tulen, ia memiliki tanggung jawab dalam mengampanyekan Islam ramah.

“Ibu saya anggota Fatayat NU, keluarga saya NU tulen. Kalau tangan saya disayat dengan pisau, akan mengalir darah bintang sembilan. Jadi, saya dan keluarga bersama-sama ingin memperjuangkan Islam yang ramah, bukan Islam yang mudah marah,” katanya dalam sebuah kesempatan.

Hendy Siswanto menaruh perhatian besar dalam perkembangan NU di Jember. Apalagi di Jember terdapat banyak pesantren NU. Sudah bukan rahasia umum lagi bahwa Hendy Siswanto melalui Rien Collection rutin memberi takjil ke pesantren-pesantren dan masjid di Jember. Hal itu sudah berlangsung selama beberapa tahun lamanya.

“Pesantren merupakan elemen penting bagi Jember. Bahkan bisa menjadi motor perekonomian di Jember. Sehingga memberikan dampak lebih besar lagi untuk Jember lebih baik dan maju,” tambahnya


Kontributor : Atta Rosida
Editor : Imam Hairon
Publisher : Aulia Fasha
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 2 / 468x60

You can share this post!

Komentar